CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

dalam cover depan

orang-orang besar dibesarkan oleh media
Aku hanya manusia biasa Aku bukanlah matahari yang selalu memberikan kehangatan kepada semua orang tanpa pernah diminta. Aku hanyalah air yang hanya bisa memberikan kesegaran untuk orang yang sedang dahaga. Aku bukanlah pasar malam yang bisa dikunjungi oleh banyak orang. Aku hanyalah sebuah toko mungil yang hanya memiliki satu orang pelanggan saja. Aku bukanlah seorang pujangga yang bisa membuat kata kata indah sehingga orang mudah terlena. Aku hanyalah seorang hamba yang hanya bisa berkata kata dengan kejujuran dan perbuatan. Aku bukanlah sebuah medan magnet yang bisa menarik orang orang disekitarku untuk selalu dekat denganku. Aku hanyalah sebuah kutub selatan yang jarang diperhatikan orang dalam sebuah perjalanan. Aku bukanlah seorang dalang yang bisa mempermainkan bonekanya dengan seenak hati. Aku hanyalah seorang pemeran yang berusaha memainkan perananku dengan sebaik mungkin. Aku bukanlah seorang saudagar yang senang mengumbar cinta dan menebar pesona. Aku hanyalah seorang kafilah yang sedang berusaha menyatukan kepingan kepingan puzzle kehidupan. Aku bukanlah seorang superhero yang mempunyai kekuatan ekstra. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang ingin menjadi lebih baik setiap harinya. dari sarikata.com zulkifli adalah nama lengkapku, saya kelahiran banjarmasin dan sekarang ngepos dan berdomisili di kuala kapuas sebuah kabupaten perbatasan kalimantan selatan dan kalimantan tengah, kegiatan saya sekarang sebagai pekerja media pada majalah karya s nusantara saya juga anggota words citizen reporter dan aktif sebagai koordinator lsm lbkbr-kt, banyak permasalahan yang ada dalam masyarakat, banyak penyimpangan yang terjadi dalam birokrasi siapa yang perduli akan hal ini, saya berharap dan berharap dan dimulai dari individu kita bisa melawan segala bentuk penyimpangan yang ada agar masyarakat bisa menjadi lebih baik.... mari berjuang.. lewat jalur apapun.. dan inilah jalur yang aku pilih....

Jumat, 03 Oktober 2008



Berapa sih gaji wartawan? Sok-sokan pula tolak amplop.

Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita

Kawan, apakah engkau termasuk salah satu dari kelompok wartawan yang kerap berkampanye anti-amplop itu? Jadi kau juga pernah sibuk menempel stiker, bikin penelitian, dan berbicara di seminar bahwa amplop itu haram? Apa yang kaulakukan itu sebetulnya mulia, kawan. Tapi bagaimana wartawan kampungan seperti aku ini bisa percaya begitu saja kalau kau tidak lebih dulu memberi contoh?

Oh bukan, bukan itu, kau tak perlu berpura-pura menolak amplop dalam temu pers. Begini saja: Mulai hari ini, setiap meliput atau bertemu narasumber, kaupakailah sebuah pin kecil di dadamu dengan tulisan AKU WARTAWAN ANTI-AMPLOP, ANTI-SUAP, ANTI-SEGALA PEMBERIAN. Atau kalau kau sering memakai rompi dan topi, sekalian saja tuliskan di situ. Berapalah biaya sablon untuk itu, gajimu kan besar. Betul, begitulah caramu berkampanye mulai saat ini, agar lebih meyakinkan dan sedap dipandang mata.

Tapi ingat, pakailah pin itu selamanya, dan jangan diam-diam bermain proyek. Entah proyek apa pun, jangan, tetap itu bisa menjadi suap. Termasuk juga pemberian fasilitas dari narasumber harus kautolak, seperti dibawa naik bus wisata sambil meliput atau bermalam di hotel. Sebab, kode etikmu jelas mengharamkan itu. Apa? Engkau lupa kode etikmu sendiri? Simaklah biar kubacakan:

Wartawan dilarang menerima sogok dalam bentuk apapun — uang, barang, atau fasilitas lain — yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi wartawan menjalankan tugasnya.

Jadi mulai hari ini kau hanya boleh memperoleh uang dari honor beritamu. Bahkan kalau ada narasumber singgah di rumahmu dan memberi anakmu sejumlah uang, kau harus mengembalikannya, sebab itu bisa dikategorikan “secara tidak langsung dapat mempengaruhi wartawan menjalankan tugas.”

Aku? Jangan dong tuntut aku melakukan hal yang sama. Aku kan bukan anggota ososiasi wartawan seperti dirimu. Lagipula aku ini wartawan freelance yang menulis lewat blog. Dan aku tidak mau munafik; karena tak ada lagi yang menggajiku sekarang, maka kalau ada orang mentraktirku makan atau memberiku uang karena ia senang membaca tulisanku, terus-terang aku akan terima dengan senang hati. Bahkan bukan cuma dari narasumber, dari siapa pun aku mau menerima bantuan, sebab itulah di blog ini kucantumkan nomor rekening bank, siapa tahu ada orang yang berbaik hati menyalurkan donasi. Tapi kalau ada yang mencoba-coba membayarku untuk merekayasa berita seperti keinginannya, kupastikan kepadamu bahwa aku akan menolak pemberiannya.

Baiklah kawan, selamat berkampanye kembali. Jangan lupa: Pakailah pinnya sambil membusungkan dada. [www.blogberita.com]

0 komentar: