CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

dalam cover depan

orang-orang besar dibesarkan oleh media
Aku hanya manusia biasa Aku bukanlah matahari yang selalu memberikan kehangatan kepada semua orang tanpa pernah diminta. Aku hanyalah air yang hanya bisa memberikan kesegaran untuk orang yang sedang dahaga. Aku bukanlah pasar malam yang bisa dikunjungi oleh banyak orang. Aku hanyalah sebuah toko mungil yang hanya memiliki satu orang pelanggan saja. Aku bukanlah seorang pujangga yang bisa membuat kata kata indah sehingga orang mudah terlena. Aku hanyalah seorang hamba yang hanya bisa berkata kata dengan kejujuran dan perbuatan. Aku bukanlah sebuah medan magnet yang bisa menarik orang orang disekitarku untuk selalu dekat denganku. Aku hanyalah sebuah kutub selatan yang jarang diperhatikan orang dalam sebuah perjalanan. Aku bukanlah seorang dalang yang bisa mempermainkan bonekanya dengan seenak hati. Aku hanyalah seorang pemeran yang berusaha memainkan perananku dengan sebaik mungkin. Aku bukanlah seorang saudagar yang senang mengumbar cinta dan menebar pesona. Aku hanyalah seorang kafilah yang sedang berusaha menyatukan kepingan kepingan puzzle kehidupan. Aku bukanlah seorang superhero yang mempunyai kekuatan ekstra. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang ingin menjadi lebih baik setiap harinya. dari sarikata.com zulkifli adalah nama lengkapku, saya kelahiran banjarmasin dan sekarang ngepos dan berdomisili di kuala kapuas sebuah kabupaten perbatasan kalimantan selatan dan kalimantan tengah, kegiatan saya sekarang sebagai pekerja media pada majalah karya s nusantara saya juga anggota words citizen reporter dan aktif sebagai koordinator lsm lbkbr-kt, banyak permasalahan yang ada dalam masyarakat, banyak penyimpangan yang terjadi dalam birokrasi siapa yang perduli akan hal ini, saya berharap dan berharap dan dimulai dari individu kita bisa melawan segala bentuk penyimpangan yang ada agar masyarakat bisa menjadi lebih baik.... mari berjuang.. lewat jalur apapun.. dan inilah jalur yang aku pilih....

Senin, 06 Oktober 2008

Jika Jurnalis Punya Blog

(Suara Merdeka Minggu – Rubrik Konek 13 Agustus 2006)

Apa jadinya jika para jurnalis berkenalan dengan Blog? Akankah mereka menjadi Blogger? Akankah media massa tempatnya bernaung mengambil referensi berita dari Blog para wartawannya? Mungkinkah Blog hanya akan jadi koleksi arsip para penulis berita? Manfaat apa yang dapat diperoleh mereka?

Saat ini, Blog bukan lagi sesuatu yang asing dan mewah bagi pengguna internet. Blog tidak hanya digunakan untuk vokalis-vokalis di Internet yang ingin menyuarakan kebebasan atau idealismenya, tetapi juga telah digunakan oleh artis, anggota DPR, bahkan menteri pertahanan. Beberapa waktu yang lalu, para jurnalis yang tergabung dalam Kelompok Diskusi Wartawan (KDW) di Jawa Tengah juga mulai melirik media ini.
Bekerjasama dengan komunitas Blogger Semarang Loenpia.net dan Telkom, pada akhir bulan Juli yang lalu KDW mengadakan pelatihan Blog untuk Jurnalis. Dengan tema Blog Your Mind, acara ini diharapkan dapat mengenalkan Weblog atau Blog kepada para wartawan dan masyarakat untuk kepentingan jurnalisme publik. Yang menarik untuk ditanyakan, apakah setelah mengenal Blog dan memanfaatkannya, mereka dapat disebut Blogger?

Jurnalis dan Blogger
Menurut Enda Nasution di dalam goblogmedia.com, tidak semua jurnalis yang ngeBlog dapat disebut blogger. Bisa saja para jurnalis hanya memindahkan atau mengoleksi artikel-artikel mereka ke dalam Blog. Menurutnya, Blog seyogyanya dimanfaatkan untuk kebebasan dalam berpikir dan menulis. Tidak ada imbalan yang diperoleh dalam menulis sesuatu di Blognya.
Namun di dalam artikel 8 Sebab Utama Memiliki Blog, Enda juga menulis salah satu manfaat Blog adalah dapat dijadikan tempat untuk menyimpan catatan-catatan atau liputan-liputan yang pernah dilakukan oleh sang jurnalis. Karena hal tersebutlah, Blog dapat dikatakan cocok untuk siapa saja. Dengan demikian, apabila sang jurnalis memiliki Blog untuk mengoleksi artikel-artikelnya, maka mereka juga dapat disebut Blogger.
Menurut thefreedictionary.com, apapun kepentingannya, siapa saja yang memanfaatkan Blognya bisa disebut Blogger jika dapat menulis di dalam Blog dan memelihara kelangsungan konten di dalam Blognya. Bahkan seseorang pengusaha yang ingin memanfaatkan Blog untuk kepentingan pemasaran sekalipun serta memelihara isi Blognya, juga dapat disebut Blogger. Tidak terkecuali bagi jurnalis. Asalkan ia dapat mengisi konten Blognya dan memelihara kelangsungannya, jurnalis juga dapat disebut Blogger.
Ada beberapa jurnalis di Jawa Tengah yang telah menjadi Blogger sejak lama, antara lain Asep Bina Septriono (asepbs.blogs.friendster.com) dan Aulia Muhammad (auliamuhammad.blogspot.com). Sedangkan untuk di luar Jawa Tengah, Farid Gaban (fgaban.blogspot.com), Andreas Harsono (andreasharsono.blogspot.com), Saljudi Paris (aljudiparis.blogspot.com), dan Roi (blognya-roi.blogspot.com) adalah beberapa contohnya. Blog-blog tersebut dapat menjadi referensi style penulisan para jurnalis di dalam media Blog.
Beberapa dari mereka sengaja menggunakan Blog sebagai tempat arsip artikel sekaligus agar koleksi artikel tersebut dapat diakses secara online. Beberapa yang lain menggunakannya sebagai media untuk menyampaikan cerita, pendapat atau gagasan yang belum pernah dipublikasi sebelumnya di media tempat mereka bekerja. Karena editornya adalah penulis itu sendiri, maka artikel yang muncul di dalam Blog juga bervariasi, bergantung pada ekspresi sang jurnalis dan tidak dibatasi oleh visi-misi suatu institusi.

Kualitas Tulisan Blog
Kebebasan berekspresi tersebut seringkali dapat menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot. Karena kualitas tulisan itulah, tidak jarang artikel-artikel di dalam suatu Blog dipilih menjadi referensi bagi media massa untuk mengulas berbagai topik yang sedang hangat. Situs milik Enda Nasution (enda.goblogmedia.com) dan Priyadi (priyadi.net) sering menjadi sumber referensi bagi media yang ingin mengulas hal-hal yang berhubungan dengan dunia Blog. Meskipun seringkali artikel-artikel tersebut disadur tanpa menyertakan sumber rujukan.
Hal ini dapat menunjukkan bahwa kualitas tulisan di dalam Blog sebetulnya tidak kalah gengsi dengan tulisan-tulisan di media massa. Terlebih lagi jika seseorang mempunyai kemampuan menulis atau telah dibekali dengan ilmu-ilmu jurnalisme. Dengan bekal tersebut, gaya bertutur, ketajaman analisa dan keakuratan tulisan yang ditampilkan di dalam Blog akan menjadi lebih matang.
Oleh karena dibaca oleh pengguna internet di seluruh dunia, tulisan dan keberadaan sang Blogger yang juga seorang jurnalis akan semakin diakui. Apabila Blogger mempunyai fokus pada bidang minat tertentu, tidak jarang berbagai undangan untuk menjadi peserta, pembicara, bahkan menjadi juri suatu lomba akan datang kepadanya.
Meskipun tulisan-tulisan mereka di dalam Blog tidak mewakili institusinya, identitas yang bersangkutan dapat ikut mendorong popularitas media yang menaunginya. Seringkali pembaca mempunyai keingintahuan untuk mengetahui lebih jauh terhadap media massa tempat sang jurnalis. Hubungan saling menguntungkan dan saling mengisi dapat saja terjadi antara Blog sang jurnalis dengan media massa tempatnya bekerja.

Manfaat Bagi Jurnalis
Bagi jurnalis itu sendiri, mempunyai blog berarti juga berlatih untuk meningkatkan ketajaman analisa dan gaya penulisan. Berbeda dengan media massa konvensional, respon terhadap tulisan yang bersangkutan akan cepat diterima oleh sang jurnalis apabila tulisan tersebut tidak akurat atau bahkan dianggap cukup berbobot. Fasilitas komentar yang disediakan oleh sebuah Blog dapat dijadikan tolok ukur bagi mereka dalam menulis artikel selanjutnya.
Selanjutnya, Blog juga dapat dimanfaatkan untuk menjadi gudang arsip dari artikel-artikel yang telah ditulis. Selain dengan tujuan dokumentasi, tindakan ini juga dapat membantu pengguna internet dalam memperoleh informasi. Tidak jarang artikel-artikel yang telah lama dipublikasi tetap menjadi favorit pencarian setelah beberapa bulan bahkan tahun terlewat. Karena tidak setiap pembaca pernah memperoleh informasi dari artikel yang telah lama dipublikasi. Atau seringkali tulisan tertangkap oleh mesin pencari ketika pengguna internet membutuhkan sumber-sumber referensi.
Dan manfaat yang terakhir, Blog mampu menjadi media untuk melepas kepenatan, penyaluran hobi atau berbagi cerita. Sebagai contoh, Asep Bina Septriono menggunakan Blognya untuk berbagi informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan musik. Saljudi Paris memilih sepakbola sebagai topik yang akhir-akhir ini muncul di Blognya. Sedangkan Andreas Harsono memilih untuk berbagi cerita tentang hal-hal yang sedang terjadi di sekitarnya.
Apapun konten Blog yang akan dipilih oleh jurnalis dan manfaat yang akan diperoleh, hal yang terpenting adalah komitmen untuk tetap memelihara Blognya dengan konten-konten yang bermakna bagi dirinya ataupun orang-orang yang membacanya.

Menimbang Nilai Berita

ARTIKEL ini ditulis oleh Febi Indirani (wartawan BusinessWeek Indonesia) sebagai pengisi materi “Workshop Jurnalistik Milis Apresiasi Sastra”, di mana saya termasuk salah satu pengisi materi.

Tulisan ini sudah melalui proses penyuntingan di sana-sini. Rasanya masih cukup relevan untuk ditampilkan di sini, mengingat masalah nilai berita masih belum dipahami oleh banyak wartawan. Bahkan yang sudah profesional sekalipun.

NILAI BERITA

Apa yang pantas dijadikan berita dan apa yang bukan? Hm ini persoalan yang susah susah gampang. Konon karena rumitnya, belum ada ahli yang berhasil menyusun definisi yang paling memuaskan mengenai berita.

Kriteria-kriteria berikut di bawah ini biasanya diperoleh dari diklat-diklat dan buku-buku jurnalistik, aku mengutipnya juga dari berbagai makalah di internet.

1. Magnitude, yaitu seberapa luas pengaruh suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang kenaikan harga BBM lebih luas pengaruhnya terhadap SELURUH masyarakat Indonesia ketimbang berita tentang gempa bumi di Jawa Tengah.

2. Significance, yaitu seberapa penting arti suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang wabah SARS lebih penting bagi khalayak ramai ketimbang berita tentang kenaikan harga BBM.

3. Actuality, yaitu tingkat aktualitas suatu peristiwa. Berita tentang kampanye calon presiden sangat menarik jika dibaca pada tanggal 1 hingga 30 Juni 2004. Setelah itu, berita seperti ini akan menjadi sangat basi.

4. Proximity, yaitu kedekatan peristiwa terhadap khalayak. Contoh: Bagi
warga Jawa Barat, berita tentang gempa bumi di Bandung lebih menarik ketimbang berita tentang gempa bumi di Surabaya.

5. Prominence, yaitu akrabnya peristiwa dengan khalayak. Contoh:
Berita-berita tentang AFI (Akademi Fantasi Indosiar) lebih akrab bagi kalangan remaja Indonesia ketimbang berita-berita tentang Piala Thomas.

6. Human Interest, yaitu kemampuan suatu peristiwa untuk menyentuh
perasaan kemanusiaan khalayak. Contoh: Berita tentang Nirmala, TKI Indonesia yang dianiaya di Malaysia, diminati oleh khalayak ramai, karena berita ini mengandung nilai human interest yang sangat tinggi.

Suatu berita tidak harus memenuhi semua kriteria di atas. Namun semakin banyak unsur tersebut yang melekat dalam suatu peristiwa, maka nilai beritanya semakin tinggi.

Ketika seorang redaktur meminta kita untuk melaporkan hal yang menurut kita menarik, kita pasti sudah memiliki sensor tertentu untuk memilah mana yang menarik dan mana yang tidak. Masalahnya bagaimana membuat pembaca juga merasakan bahwa hal yang ingin kita sampaikan itu memang penting untuk dibagi kepada orang lain.

Jadi penting untuk memaparkan sesuatu itu dengan cara bercerita yang sedapat mungkin mengundang minat banyak orang, entah itu menjadi masalah kita semua, menjadi lucu atau menjadi mengharukan bagi kita semua. Hal ini biasanya sudah dimulai dari paragraf awal (lead) turun terus sampai ke tubuh tulisan dan ending.

Untuk itu kita mesti kembali lagi tegas memilih angle sebelum menulis, sebetulnya apa yang hendak kita sampaikan ? Apa yang penting untuk diketahui dan dirasakan oleh pembaca? Fokus saja pada itu. Potong informasi, detail atau apapun yang tidak mendukung pilihan awal kita, daripada pembaca di akhir tulisan akan kembali bingung sebetulnya apa yang hendak kita sampaikan.

Berhenti menulis untuk halaman depan. Terlalu banyak wartawan — dan saya dulu juga begini sebagai reporter — berpikir bahwa halaman depan adalah satu-satunya pembuktian kuat mereka sebagai wartawan. Pada web, tentu saja, tidak ada halaman depan, hanya stempel waktu. Lebih baik menulis cerita yang benar ketimbang cemas di mana editor akan memuat cerita kita di edisi cetak.

Berhenti memperlakukan jurnalisme seperti sebuah persaingan. Memang menyenangkan mengalahkan media lain, tapi itu tidak boleh jadi satu-satunya alasan mendapatkan cerita. Menginginkan setiap cerita supaya terbit lebih dulu dari pesaing akan berujung pada kesalahan, baik dalam pelaporan maupun proses berpikir bagaimana menangani cerita itu. Nilai ekonomi dari mengalahkan pesaing pada hari-hari ini bisa dibilang nol. Nilai sebagai sumber arus informasi yang terpercaya dalam jangka waktu lama adalah signifikan. Ini bukan sebuah poin yang bertentangan, kalau dipikir-pikir.

Berhenti mengirimkan cerita anda ke perlombaan penulisan/pelaporan. Ini hanya akan mendorong anda menulis demi wartawan lain, bukan demi pembaca anda.

Simak pembaca anda lebih baik lagi. Hargai setiap pujian kecil yang tulus. Jika itu berupa sebuah surat atau kartu pos, tempelkan di papan buletin anda; jika itu berupa email, cetaklah dan tempel juga di situ. Jadikan pujian tulus pembaca sebagai tujuan sehari-hari. Berhenti memandang sebelah mata kritikan yang mengeluh tentang setiap hal yang dilakukan koran anda.

Masukkan lebih banyak orang dalam cerita anda dan lebih sedikit gelar. Saya akan mengarang sebuah aturan khusus ini, tetapi … untuk setiap judul, anda harus mengutip dua orang yang tak punya gelar. Jadi, jika anda meliput dewan kota dan mengutip walikota dan anggota dewan, anda perlu juga memasukkan empat orang tanpa gelar. Orang biasa yang nyata. Berikan tekanan pada dampak yang dirasakan orang biasa, bukan hanya apa yang dikatakan orang tentang sebuah isu atau kejadian. Coba lihat berapa banyak cerita tentang dewan kota yang anda bisa tulis dalam sebulan tanpa sekalipun menyebut pejabat terpilih/yang ditunjuk.

Jangan meliput proses. Liputlah cerita sebenarnya. Cerita sebenarnya memuat orang biasa, dengan hal-hal nyata yang hendak dikatakan, tentang hal nyata yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Kuasai subjek yang anda liput. Anda harus lebih paham liputan anda dari semua sumber. Ini akan menolong anda menghindari “konon katanya”. Membuat anda lebih mampu menulis cerita yang dalam, dan memberi anda keyakinan untuk menambah perspektif. Anda juga akan bisa menggali lebih banyak cerita yang lebih baik lagi.

Lupakan anggapan-palsu objektivitas. Sebaliknya, berusahalah adil, jujur, tak berpihak, dan akurat.

Jadilah akurat. Selalu. Menjadi akurat bukanlah sek

Wartawan sebaiknya memahami panggilan narasumbernya

Judulnya adalah plesetan dari judul tulisan rekan Firman tentang wartawan yang harus memahami apa yang sedang diliputnya.

Jadi ceritanya, waktu kasus Ahmad Albar yang diciduk polisi sedang ramai-ramainya, banyak wartawan nongkrong di depan rumah rocker tua itu, untuk memberitakan perkembangan detik-demi-detik mengenai kasusnya. Tapi lumayan sulit sebab rumahnya sepi dan yang keluar-masuk hanya supirnya.

Tunggu punya tunggu, akhirnya keluarlah Alba Fuad. Keponakan Om Iyek (panggilan Ahmad Albar) ini pun langsung dikerubuti wartawan demi sepatah-dua komentar.

Nah, di tengah-tengah itu, seorang wartawan bertanya: “Kabarnya Pa’i gimana Mbak?”

Semua mata menoleh ke arah sumber suara dengan bingung. Pa’i? Siapa itu Pa’i?

“Fachri terakhir sih telfon dia baik-baik saja,” kata Alba.

Barulah semua paham kalau “Pa’i” yang dimaksud adalah Fachri Albar – anak Om Iyek. Tapi bukankah panggilan Fachri itu Ai?

Selesai wawancara dengan Alba, si wartawan ditanya: “Kok nama panggilannya Pa’i sih?”

“Lah kan namanya Rivai Albar. Jadi panggilannya ya Pa’i,” jawab si wartawan dengan polos.

Untunglah nggak ketahuan sama Alba Fuad kalo si wartawan salah data :)

edar mendapatkan fakta yang benar. Dia membimbing pendekatan anda sepenuhnya terhadap sebuah cerita. Sebagian dari menjadi akurat artinya anda tidak pernah membesar-besarkan. Tidak pernah. Anda takkan pernah menggoreng konflik hanya supaya cerita halaman satu yang lebih keren. Anda takkan pernah memotong kutipan supaya jadi lebih dramatis, atau mengutak-atiknya demi menekankan sebuah hal.

Liputlah masyarakat anda layaknya kampung halaman anda — dan semoga saja iya — libatkan diri anda dalam masyarakat dan pedulikan orang-orangnya. Meski kenyataan bisa saja mengganggu, dan anda bisa saja harus pindah suatu hari nanti, setidaknya ketika anda sedang meliput sekelompok masyarakat, bangunlah pemikiran bahwa anda akan tinggal selamanya meliput kota ini, atau topik ini.