CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

dalam cover depan

orang-orang besar dibesarkan oleh media
Aku hanya manusia biasa Aku bukanlah matahari yang selalu memberikan kehangatan kepada semua orang tanpa pernah diminta. Aku hanyalah air yang hanya bisa memberikan kesegaran untuk orang yang sedang dahaga. Aku bukanlah pasar malam yang bisa dikunjungi oleh banyak orang. Aku hanyalah sebuah toko mungil yang hanya memiliki satu orang pelanggan saja. Aku bukanlah seorang pujangga yang bisa membuat kata kata indah sehingga orang mudah terlena. Aku hanyalah seorang hamba yang hanya bisa berkata kata dengan kejujuran dan perbuatan. Aku bukanlah sebuah medan magnet yang bisa menarik orang orang disekitarku untuk selalu dekat denganku. Aku hanyalah sebuah kutub selatan yang jarang diperhatikan orang dalam sebuah perjalanan. Aku bukanlah seorang dalang yang bisa mempermainkan bonekanya dengan seenak hati. Aku hanyalah seorang pemeran yang berusaha memainkan perananku dengan sebaik mungkin. Aku bukanlah seorang saudagar yang senang mengumbar cinta dan menebar pesona. Aku hanyalah seorang kafilah yang sedang berusaha menyatukan kepingan kepingan puzzle kehidupan. Aku bukanlah seorang superhero yang mempunyai kekuatan ekstra. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang ingin menjadi lebih baik setiap harinya. dari sarikata.com zulkifli adalah nama lengkapku, saya kelahiran banjarmasin dan sekarang ngepos dan berdomisili di kuala kapuas sebuah kabupaten perbatasan kalimantan selatan dan kalimantan tengah, kegiatan saya sekarang sebagai pekerja media pada majalah karya s nusantara saya juga anggota words citizen reporter dan aktif sebagai koordinator lsm lbkbr-kt, banyak permasalahan yang ada dalam masyarakat, banyak penyimpangan yang terjadi dalam birokrasi siapa yang perduli akan hal ini, saya berharap dan berharap dan dimulai dari individu kita bisa melawan segala bentuk penyimpangan yang ada agar masyarakat bisa menjadi lebih baik.... mari berjuang.. lewat jalur apapun.. dan inilah jalur yang aku pilih....

Senin, 06 Oktober 2008

Berhenti menulis untuk halaman depan. Terlalu banyak wartawan — dan saya dulu juga begini sebagai reporter — berpikir bahwa halaman depan adalah satu-satunya pembuktian kuat mereka sebagai wartawan. Pada web, tentu saja, tidak ada halaman depan, hanya stempel waktu. Lebih baik menulis cerita yang benar ketimbang cemas di mana editor akan memuat cerita kita di edisi cetak.

Berhenti memperlakukan jurnalisme seperti sebuah persaingan. Memang menyenangkan mengalahkan media lain, tapi itu tidak boleh jadi satu-satunya alasan mendapatkan cerita. Menginginkan setiap cerita supaya terbit lebih dulu dari pesaing akan berujung pada kesalahan, baik dalam pelaporan maupun proses berpikir bagaimana menangani cerita itu. Nilai ekonomi dari mengalahkan pesaing pada hari-hari ini bisa dibilang nol. Nilai sebagai sumber arus informasi yang terpercaya dalam jangka waktu lama adalah signifikan. Ini bukan sebuah poin yang bertentangan, kalau dipikir-pikir.

Berhenti mengirimkan cerita anda ke perlombaan penulisan/pelaporan. Ini hanya akan mendorong anda menulis demi wartawan lain, bukan demi pembaca anda.

Simak pembaca anda lebih baik lagi. Hargai setiap pujian kecil yang tulus. Jika itu berupa sebuah surat atau kartu pos, tempelkan di papan buletin anda; jika itu berupa email, cetaklah dan tempel juga di situ. Jadikan pujian tulus pembaca sebagai tujuan sehari-hari. Berhenti memandang sebelah mata kritikan yang mengeluh tentang setiap hal yang dilakukan koran anda.

Masukkan lebih banyak orang dalam cerita anda dan lebih sedikit gelar. Saya akan mengarang sebuah aturan khusus ini, tetapi … untuk setiap judul, anda harus mengutip dua orang yang tak punya gelar. Jadi, jika anda meliput dewan kota dan mengutip walikota dan anggota dewan, anda perlu juga memasukkan empat orang tanpa gelar. Orang biasa yang nyata. Berikan tekanan pada dampak yang dirasakan orang biasa, bukan hanya apa yang dikatakan orang tentang sebuah isu atau kejadian. Coba lihat berapa banyak cerita tentang dewan kota yang anda bisa tulis dalam sebulan tanpa sekalipun menyebut pejabat terpilih/yang ditunjuk.

Jangan meliput proses. Liputlah cerita sebenarnya. Cerita sebenarnya memuat orang biasa, dengan hal-hal nyata yang hendak dikatakan, tentang hal nyata yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Kuasai subjek yang anda liput. Anda harus lebih paham liputan anda dari semua sumber. Ini akan menolong anda menghindari “konon katanya”. Membuat anda lebih mampu menulis cerita yang dalam, dan memberi anda keyakinan untuk menambah perspektif. Anda juga akan bisa menggali lebih banyak cerita yang lebih baik lagi.

Lupakan anggapan-palsu objektivitas. Sebaliknya, berusahalah adil, jujur, tak berpihak, dan akurat.

Jadilah akurat. Selalu. Menjadi akurat bukanlah sek

Wartawan sebaiknya memahami panggilan narasumbernya

Judulnya adalah plesetan dari judul tulisan rekan Firman tentang wartawan yang harus memahami apa yang sedang diliputnya.

Jadi ceritanya, waktu kasus Ahmad Albar yang diciduk polisi sedang ramai-ramainya, banyak wartawan nongkrong di depan rumah rocker tua itu, untuk memberitakan perkembangan detik-demi-detik mengenai kasusnya. Tapi lumayan sulit sebab rumahnya sepi dan yang keluar-masuk hanya supirnya.

Tunggu punya tunggu, akhirnya keluarlah Alba Fuad. Keponakan Om Iyek (panggilan Ahmad Albar) ini pun langsung dikerubuti wartawan demi sepatah-dua komentar.

Nah, di tengah-tengah itu, seorang wartawan bertanya: “Kabarnya Pa’i gimana Mbak?”

Semua mata menoleh ke arah sumber suara dengan bingung. Pa’i? Siapa itu Pa’i?

“Fachri terakhir sih telfon dia baik-baik saja,” kata Alba.

Barulah semua paham kalau “Pa’i” yang dimaksud adalah Fachri Albar – anak Om Iyek. Tapi bukankah panggilan Fachri itu Ai?

Selesai wawancara dengan Alba, si wartawan ditanya: “Kok nama panggilannya Pa’i sih?”

“Lah kan namanya Rivai Albar. Jadi panggilannya ya Pa’i,” jawab si wartawan dengan polos.

Untunglah nggak ketahuan sama Alba Fuad kalo si wartawan salah data :)

edar mendapatkan fakta yang benar. Dia membimbing pendekatan anda sepenuhnya terhadap sebuah cerita. Sebagian dari menjadi akurat artinya anda tidak pernah membesar-besarkan. Tidak pernah. Anda takkan pernah menggoreng konflik hanya supaya cerita halaman satu yang lebih keren. Anda takkan pernah memotong kutipan supaya jadi lebih dramatis, atau mengutak-atiknya demi menekankan sebuah hal.

Liputlah masyarakat anda layaknya kampung halaman anda — dan semoga saja iya — libatkan diri anda dalam masyarakat dan pedulikan orang-orangnya. Meski kenyataan bisa saja mengganggu, dan anda bisa saja harus pindah suatu hari nanti, setidaknya ketika anda sedang meliput sekelompok masyarakat, bangunlah pemikiran bahwa anda akan tinggal selamanya meliput kota ini, atau topik ini.

0 komentar: