Menimbang Nilai Berita
ARTIKEL ini ditulis oleh Febi Indirani (wartawan BusinessWeek Indonesia) sebagai pengisi materi “Workshop Jurnalistik Milis Apresiasi Sastra”, di mana saya termasuk salah satu pengisi materi.
Tulisan ini sudah melalui proses penyuntingan di sana-sini. Rasanya masih cukup relevan untuk ditampilkan di sini, mengingat masalah nilai berita masih belum dipahami oleh banyak wartawan. Bahkan yang sudah profesional sekalipun.
NILAI BERITA
Apa yang pantas dijadikan berita dan apa yang bukan? Hm ini persoalan yang susah susah gampang. Konon karena rumitnya, belum ada ahli yang berhasil menyusun definisi yang paling memuaskan mengenai berita.
Kriteria-kriteria berikut di bawah ini biasanya diperoleh dari diklat-diklat dan buku-buku jurnalistik, aku mengutipnya juga dari berbagai makalah di internet.
1. Magnitude, yaitu seberapa luas pengaruh suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang kenaikan harga BBM lebih luas pengaruhnya terhadap SELURUH masyarakat Indonesia ketimbang berita tentang gempa bumi di Jawa Tengah.
2. Significance, yaitu seberapa penting arti suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang wabah SARS lebih penting bagi khalayak ramai ketimbang berita tentang kenaikan harga BBM.
3. Actuality, yaitu tingkat aktualitas suatu peristiwa. Berita tentang kampanye calon presiden sangat menarik jika dibaca pada tanggal 1 hingga 30 Juni 2004. Setelah itu, berita seperti ini akan menjadi sangat basi.
4. Proximity, yaitu kedekatan peristiwa terhadap khalayak. Contoh: Bagi
warga Jawa Barat, berita tentang gempa bumi di Bandung lebih menarik ketimbang berita tentang gempa bumi di Surabaya.
5. Prominence, yaitu akrabnya peristiwa dengan khalayak. Contoh:
Berita-berita tentang AFI (Akademi Fantasi Indosiar) lebih akrab bagi kalangan remaja Indonesia ketimbang berita-berita tentang Piala Thomas.
6. Human Interest, yaitu kemampuan suatu peristiwa untuk menyentuh
perasaan kemanusiaan khalayak. Contoh: Berita tentang Nirmala, TKI Indonesia yang dianiaya di Malaysia, diminati oleh khalayak ramai, karena berita ini mengandung nilai human interest yang sangat tinggi.
Suatu berita tidak harus memenuhi semua kriteria di atas. Namun semakin banyak unsur tersebut yang melekat dalam suatu peristiwa, maka nilai beritanya semakin tinggi.
Ketika seorang redaktur meminta kita untuk melaporkan hal yang menurut kita menarik, kita pasti sudah memiliki sensor tertentu untuk memilah mana yang menarik dan mana yang tidak. Masalahnya bagaimana membuat pembaca juga merasakan bahwa hal yang ingin kita sampaikan itu memang penting untuk dibagi kepada orang lain.
Jadi penting untuk memaparkan sesuatu itu dengan cara bercerita yang sedapat mungkin mengundang minat banyak orang, entah itu menjadi masalah kita semua, menjadi lucu atau menjadi mengharukan bagi kita semua. Hal ini biasanya sudah dimulai dari paragraf awal (lead) turun terus sampai ke tubuh tulisan dan ending.
Untuk itu kita mesti kembali lagi tegas memilih angle sebelum menulis, sebetulnya apa yang hendak kita sampaikan ? Apa yang penting untuk diketahui dan dirasakan oleh pembaca? Fokus saja pada itu. Potong informasi, detail atau apapun yang tidak mendukung pilihan awal kita, daripada pembaca di akhir tulisan akan kembali bingung sebetulnya apa yang hendak kita sampaikan.

0 komentar:
Posting Komentar